(Foto By : Donatus Lewo Ladjar)
Murah, banyak dan tawar-menawar adalah
ciri dari pasar tradisional. Setiap barang dan juga bahan makanan yang dijual
sangat ramah untuk kantong masyarakat menengah kebawah. Dengan membawa uang
yang sedikit, dapat pulang dengan membawa banyak bahan belanjaan. Cukup dengan
menawar harga, bisa mendapatkan diskon atau bonus barang belanjaan yang di
beli.
Setiap waktu subuh, pasar tradisional
sudah buka dan siap menawarkan barang dagangan mereka yang masih segar dan
baru. Pasokan ikan, ayam, sayuran dan bahan dagangan lain yang baru mereka
terima di pagi hari buta, membuat mereka harus bangun di tengah malam untuk
bersiap berjualan di pagi hari.
Berjualan dari matahari belum muncul
hingga matahari terbenam adalah aktifitas para pedagang di pasar tradisional. Mereka
juga harus menahan bau pedas atau amis yang menyengat dari dagangan milik
mereka dan pedagang lain setiap hari. Setelah selesai bekerja pun mereka masih
harus membersihkan sampah dagangan mereka terlebih dahulu, agar tempat dagangan
mereka terlihat rapih kembali dan tidak ada sampah yang menumpuk.
Meskipun saat ini pasar tradisional
sudah semakin sepi pembeli, para pedagang tetap antusias dalam menjual barang
dagangannya. Bagaimana pun cara nya mereka harus dapat menjual barang dagangan
mereka hingga habis dan bisa pulang dengan membawa uang. “Walaupun harus
menjual dengan harga murah, yang penting dagangan laku” itulah prinsip yang
mereka punya untuk semangat dalam mencari nafkah.
Bagi
masyarakat ekonomi menengah kebawah, mereka akan lebih memilih berbelanja ke
pasar tradisional dibandingkan pergi berbelanja di supermarket atau mal. Mereka berpendapat bahwa harga barang yang
ada di supermarket atau di mal
harganya sangat mahal dibandingkan dengan barang yang ada di pasar tradisional.
Tidak peduli pasar itu kotor atau bau, yang penting harganya murah dan mereka
bisa membeli barang yang mereka inginkan.
Selain
itu adanya interaksi antara penjual dan pembeli menjadi hal yang menarik yang
terdapat di pasar tradisional. Seorang pembeli pasti selalu bertanya “Bu.. ini
berapa harganya?” dan sang penjual pun kan menyebutkan harganya serta
jumlahnya. Bila harga dan jumlah barangnya yang dijual tidak sesuai dengan
keinginan pembeli, maka mereka akan menawar harganya atau meminta bonus lebih
kepada si penjual. “Waduh kemahalan bu, kurangin ya harganya kalau tidak
bonusin deh.” kata si pembeli.
Oleh
karena itu, pasar tradisional pun menjadi minat dan sasaran bagi para pedagang
kecil atau pedagang sayuran. Mereka biasanya mencari uang dengan membeli barang
di pasar, kemudian menjualnya kembali dengan cara berkeliling. Ada juga
pedagang makanan yang membeli bahan belanjaan di pasar untuk diolah menjadi
makanan siap santap, yang mereka jual di rumah makan milik mereka.
Bagi sebagian orang pasar tradisional
memang selalu terlihat kotor, berantakan, dan bau yang menyengat dimana-mana.
Mereka menganggap hal itu jorok dan tidak higienis, bahkan membuat sepatu serta
pakaian mereka menjadi kotor. Mereka lebih senang untuk berbelanja di tempat
yang bersih dan rapih, seperti supermarket,
mal dan pusat perbelanjaan lainnya. Mereka tidak pernah mementingkan
harganya yang mahal, yang penting mereka nyaman dan senang berbelanja disana.
Meskipun begitu, pasar tradisional akan tetap
ada dan masih dibutuhkan. Masih banyaknya masyarakat yang mau berbelanja dan
membeli barang di pasar. Mereka yang lebih memilih harga murah, akan selalu
menjadi langganan utama di pasar tradisional. (Donatus Lewo Ladjar/PNJ)

0 Komentar